Keesokan paginya, saat Lynx dan Jelita tiba di ruang pertemuan tempat walikota berada, mereka melihat Ling Mei bersama keempat saudara seperguruannya berikut Li Wei yang kini telah mengenakan seragam Sekte Api Langit. Mereka tampak bersiap untuk berangkat.

Tadi malam, Li Wei sudah memberi tahu mereka tentang rencana kepulangannya bersama Ling Mei ke sekte. Kini, tanpa banyak bicara, Ling Mei melangkah keluar lebih dulu tanpa sekalipun menyapa Lynx. Tatapannya dingin, dan ekspresinya menunjukkan ketidakpuasan yang jelas.

Di dalam hatinya, ia merasa kesal dan marah. Bukan hanya karena Lynx merahasiakan hubungannya dengan Jelita, tapi juga karena keberanian pemuda itu merayunya meski sudah ada Jelita di sisinya.

Lynx tidak menahan kepergiannya, hanya memandang sosoknya dalam diam. Ia melihat Ling Mei dan saudara seperguruannya mengeluarkan pedang terbang mereka. Dengan senjata itu, mereka bisa kembali ke Sekte Api Langit dengan cepat.

Karena ranah kultivasi Li Wei masih rendah, ia ikut menumpang di pedang Ling Mei.

"Xiao Ling, Yun Qing, sampai bertemu lagi…!" seru Li Wei sebelum mereka semua melesat ke langit, meninggalkan jejak cahaya yang perlahan memudar.

Lynx menatap kepergian mereka dengan ekspresi rumit. "Aku akan segera menyusulmu setelah urusanku selesai," batinnya.

Setelah itu, Lynx dan Jelita berpamitan kepada walikota serta keluarganya, juga kepada Komandan Jiang. Namun, Lynx tidak menjelaskan tujuan perjalanannya, karena bahkan ia sendiri belum tahu pasti ke mana mereka akan pergi. Yang ia tahu hanyalah misinya, menemukan para penduduk Surya yang hilang, memastikan mereka dalam keadaan selamat dan aman, serta menemukan Leena dan membawanya kembali ke dunia mereka.

Revisi sesuai instruksi Anda:

"Xiao Ling, kenapa kau begitu terburu-buru? Kami semua bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih atas bantuanmu terhadap kota ini, terutama kepada keluargaku," kata Walikota dengan ekspresi penuh penghargaan. "Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman di sini?"

Lynx menggeleng pelan. "Kami sangat nyaman di sini, tetapi ada hal penting yang harus kami lakukan," ujarnya. Tatapannya kemudian beralih ke arah Komandan Jiang. "Paman Jiang mungkin masih ingat mengenai orang-orang yang sedang saya cari. Saya baru saja mendapatkan berita penting terkait hal ini."

Komandan Jiang mengangguk dengan sikap hormat. "Tentu saya ingat. Saya sudah berjanji akan membantu Tuan Muda Xiao mendapatkan informasi tentang mereka. Namun, bagaimana saya bisa mengirimkan berita jika Tuan Xiao bepergian?"

Lynx tersenyum tipis. "Paman Jiang bisa menemukan saya melalui Tuan Zhen Huan. Beliau tahu bagaimana cara menyampaikan informasi kepada saya."

Tadi malam, selain membahas keberadaan Suku Surya, Lynx juga telah membuat kesepakatan dengan Zhen Huan. Ia setuju untuk membantu dalam pertandingan judi batu yang akan diadakan di kerajaan beberapa bulan ke depan, sebuah turnamen yang dapat meningkatkan bisnis Zhen Huan secara signifikan. Sebagai imbalan, Lynx diberikan plakat nama khusus, tanda pengenal yang memungkinkannya mendapatkan akses sebagai tamu VIP di seluruh usaha Zhen Huan, dan dengan demikian, Zhen Huan juga akan mengetahui posisi keberadaan Lynx.

Saat ada kesempatan, Li Mei memeluk Lynx erat sebelum pergi. Ia dengan tulus mengucapkan terima kasih, serta memberikan berbagai hadiah kepada Lynx dan Jelita sebagai bentuk terima kasih karena telah menyelamatkannya.

Lynx tidak menolaknya. Ia menerima hadiah itu, karena tahu bahwa perjalanan yang akan ditempuhnya masih panjang, dan ia pasti akan membutuhkan semua bantuan yang bisa didapatkan.

Setelah berpamitan dan menyerahkan semua urusan kota Huoling termasuk pemberontakan keluarga Huo kepada walikota, Lynx segera pergi menuju kota Zhurong.

***

Di langit biru yang luas, beberapa sosok meluncur dengan kecepatan tinggi, jubah putih mereka berkibar diterpa angin. Cahaya mentari memantul di kain putih yang mereka kenakan, menciptakan kilauan samar yang memberi kesan anggun dan mistis. Dari kejauhan, mereka tampak seperti sekawanan bangau putih yang tengah melintasi cakrawala.

Di antara mereka, Li Wei berdiri di atas pedang yang sama dengan Ling Mei. Wajahnya tampak penuh pertanyaan saat menoleh ke arah kakak seperguruannya.

"Kak Ling Mei, kenapa tadi kakak tidak berpamitan dengan Xiao Ling? Padahal setelah kita kembali ke sekte, kita tidak tahu kapan akan bertemu lagi dengan mereka," tanyanya penuh rasa ingin tahu.

Ling Mei tetap diam, pandangannya tertuju lurus ke depan. Li Wei menunggu jawaban, tapi yang didapatinya hanyalah kesunyian yang menggantung di antara mereka.

Setelah beberapa saat, Ling Mei akhirnya berucap, suaranya datar. "Li Wei, kita sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka. Sekarang kita harus fokus meningkatkan kemampuan kita."

"Tapi, Kak..." Li Wei mengernyit. "Xiao Ling sudah banyak membantu kota dan keluargaku. Tidak mungkin kita mengabaikan mereka begitu saja."

Ling Mei tidak menjawab, hanya mengeratkan genggamannya pada pedang terbangnya. Banyak hal berkecamuk di dalam hatinya. Pemuda itu... kekuatannya begitu dahsyat, mampu membantai ratusan binatang iblis seolah tak lebih dari semut. keanehan karena tubuhnya yang jelas-jelas terluka parah namun bisa pulih dengan cepat bahkan dantiannya yang hancur seharusnya tidak bisa pulih, ternyata kembali normal. Dan... kejadian di dalam gua. Hanya dengan mengingatnya saja, wajahnya terasa panas, napasnya memburu.

Li Wei, yang memperhatikannya dengan seksama, langsung bertanya dengan nada khawatir, "Kak Ling Mei, apakah kakak sakit? Atau... apakah Xiao Ling telah menyakiti kakak?"

Mendengar nama itu disebut, wajah Ling Mei semakin memerah. Dengan suara ketus, ia berkata, "Hentikan menyebut pemuda bajingan itu, Li Wei."

Li Wei menyipitkan mata, menangkap nada emosi yang terkandung dalam kata-kata kakaknya. "Baiklah, Kak Ling Mei. Tapi aku bertanya untuk terakhir kalinya saja... kenapa kakak sepertinya sangat membenci Xiao Ling? Bukankah dia selalu memperhatikan kakak?"

Ling Mei mendengus. "Huh, baik? Pria seperti itu kau bilang baik? Bukankah sudah kubilang, dia sudah menikah dengan Yun Qing, tetapi dia masih suka menggoda wanita lain. Kau tidak perlu membahasnya lagi, dan mulai sekarang jauhi orang seperti dia."

"Tapi, Kak..." Li Wei menatapnya dengan serius. "Yun Qing sendiri tadi malam mengakui bahwa mereka bukan suami istri. Mereka hanya berpura-pura untuk menghindari masalah. Sebenarnya, mereka tidak memiliki hubungan seperti itu."

"Apa?" Mata Ling Mei membelalak. Sejenak, konsentrasinya goyah, hampir saja pedangnya kehilangan kendali.

"Jadi... mereka bukan suami istri?" batinnya. Berbagai perasaan yang tak terdefinisikan bermunculan dalam hatinya.

"Apakah kau yakin, Li Wei?" tanyanya, suaranya jauh lebih pelan. "Bisa jadi Yun Qing sengaja berbohong karena suatu alasan."

Li Wei merasakan perubahan dalam intonasi suara kakaknya dan tersenyum kecil. "Tentu saja aku yakin, Kak. Mereka tidak berbohong, aku bisa membedakannya."

Ia lalu melanjutkan dengan nada menggoda, "Kalau Kak Ling Mei tidak tertarik dengan Xiao Ling, biar aku saja yang mendekatinya. Dia pria yang penuh rahasia, tapi mengesankan."

Li Wei harus mengakui jika dia sebelumnya belum pernah merasakan ketertarikan kepada lawan jenis seperti kepada Xiao Ling, tetapi saat melihat perhatian Xiao Ling selalu tertuju kearah kakak seperguruannya, Ling Mei, dia hanya menyimpan rasa sukanya di hati.

Ling Mei tidak segera membalas. Namun, pikirannya mulai mengembara, mengingat setiap interaksi yang pernah terjadi antara dirinya dan Xiao Ling.

Tiba-tiba, Li Wei mengeluarkan sesuatu dari lengan jubahnya. "Kak Ling Mei, ini diberikan oleh Xiao Ling. Katanya, dengan ini kakak bisa mengetahui keberadaannya, dan dia juga bisa mengetahui di mana kakak berada."

Ling Mei mengambil benda itu, sebuah kertas formasi dengan corak yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Formasi yang dapat memberi informasi keberadaan seseorang memang umum, tapi yang bisa menunjukkan arah lokasi seseorang? Ini pertama kalinya ia melihatnya.

Tanpa banyak berpikir, ia segera menyimpannya. Namun, bukannya memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan, ia memilih untuk menyelipkannya di balik jubahnya. Formasi seperti ini mungkin tidak akan berfungsi jika disimpan dalam ruang dimensi terpisah.

Dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di benaknya, Ling Mei dan yang lainnya melesat cepat menuju sekte mereka, dengan sebuah harapan muncul di hatinya.

